Arsip Blog

Minggu, 22 November 2015

PSIKOLOGI MANAJEMEN LEADERSHIP DALAM PERUSAHAAN


Teori kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya
Model Kontingensi dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967). Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and the degree to which the leader has control and influence in a particular situation, the situational favorableness (Fiedler, 1974)
Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu
Untuk menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri dari 16 butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke terlaksananya tugas (task oriented). Fiedler menyimpulkan bahwa:
1.      Pemimpin dengan skor LPC rendah (pemimpin yang berorientasi ke tugas) cenderung untuk berhasil paling baik dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan, maupun yang sangat tidak menguntungkan pemimpin.
2.      Pemimpin dengan skor LPC tinggi (pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung untuk berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sederajat dengan keuntungannya.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi atau lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
a.       Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).
b.       Struktur tugas (task structure)
Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu tidak jelas atau kabur.
c.       Hubungan antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member relations)
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).

Berdasarkan ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik, struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.

B.   Pedoman Wawancara
I.                   Subjek
A.    Identitas Subjek
1.      Nama (Inisial)             :
2.      Jenis Kelamin              :
3.      Usia                             :
4.      Tinggi Badan              :
5.      Berat Badan                :
B.     Daftar Pertanyaan
1.      Bagaimana bentuk organisasi yang anda pimpin ?
2.      Bagaimana perkembangan organisasi yang anda pimpin ?
3.      Bagaimana pembagian kewenangan dalam memanajemen organisasi ini ?
4.      Bagaimana hubungan anda dengan pegawai ?
5.      Bagaimana sikap anda jika mendapati ada pegawai yang bersikap skeptis ?
6.      Bagaimana tindakan anda jika menemukan pegawai yang kurang inisiatif ?
7.      Bagaimana cara anda agar pegawai anda dapat satu visi misi dengan anda?
8.      Bagaimana strategi anda untuk menjaga solidaritas antar pegawai anda?

C.   Hasil Wawancara
I.    Subjek
A.    Identitas Subjek
1.      Nama (Inisial)                   : A
2.      Jenis Kelamin                    : Laki-laki
3.      Usia                                   : ±25 Tahun
4.      Tinggi Badan                    : ±170 cm
5.      Berat Badan                      : ±70 Kg
B.     Verbatim
Interviewer: “malem bro”
Interviewee: “malem bro”
Interviewer: “San gue mau wawancara lu sebentar ya”
Interviewee: “Boleh boleh silahkan”
Interviewer: “Eemm lu itu ketua umum kan di sebro nii”
Interviewee: “Iya betul gue sebagai ketua umum di sebro ini
Interviewer: ”Bisa di ceritain gak sih sebenernya rumah sebro tu sebenernya apa
         sih?”
Interviewee: ”Sumber gimana maksudnya?”
Interviewer: ”Emm apa rumah sebro? Sebro tuh apa? Apakah tempat belajar?”
Interviewee: ”Rumah sebro kalo dari secara garis awal kita bermula berdiri itu dulu sebenernya gue membuat sebuah kedai, kedai restoran sih kecil – kecilan, jadi dulu tuh awalnya, gue lulus sekolah gue udah punya niatan buka kedai tapi di tengah perjalanan gua ngerintis usaha gue itu, gue mengalami em apa itu namanya kekurangan secara financial, jadi ituu pas karena gue juga suka hobi gitu kan gua ada hobi yang gue suka jadi gitu kan di musik, dan temen-temen gue pun sama gabung dari grup perkusi emping, trus kita juga suka juga sama gambas, sket santai, kita bikin komunitas sket santai, trus ada juga teater kabita, dan juga akhirnya waktu pas itu dulu inget banget, waktu bulan april itu kita eeh lomba di bekasi, nah awal mula rumah sebro nih, dulu kita latihan perkusi di rumah, disini gitu kan di sebro, dulu tuh  eeh kita latih-latihan gitu kan disini, jadi banyak anak-anak kecil di sekitar rumah gue ini dia tuh pada dateng gitu kan (suara motor lewat) karena memang kan gue bikin suara gaduh, tapi gaduh yang unik gitu kan dengan kita bermain musik dari alat bekas gitu kan, akhirnya kita tuh melihat dari segi sisi anak tersebut kayaknya tuh mereka mau belajar gitu kan, karena kalo liat dari mukanya sendiri mereka tuh antusias banget sampe dateng gitu kan, rutin banget, kalo lagi latihan pasti ada anak, rame tuh pasti pada dateng kan anak, akhirnya eeuu setelah kita pikir-pikir, setelah kita lomba dan alhamdulillah juga, gue lomba waktu itu di bekasi menang juara 2, lomba piala walikota waktu itu, dan akhirnya setelah gue kumpul-kumpul lagi sama temen-temen kita sepakat nih kayaknya ngeliat keadaan yang di sekitar sini gitu kan melihat antusias anak-anak di sekitar sini, makanya mita membuat rumah belajar gitu kan buat mereka, karena memang terkadang kalo kita kumpul disitu udah kaya basecamp sih, basecamp anak-anak buat kumpul gambar, kita sering sharinggambar, tukar pikiran juga gitu kan, akhirnya tercetuslah suatu eeuu inisiatif dari temen-temen semua dan kesepakatan bareng-bareng kita untuk rumah sebro gitu kan”.
Interviewer: “Jadi intinya rumah sebro itu sekarang jadi kaya semacem sekolah ya buat..”
Interviewee: ”Engga sih kalo sekolah, belum kayaknya, kita lebih ke sanggar”.
Interviewer: “Oh sanggar seni (iya) musik”
Interviewee: “Seni musik, tari”.
Interviewer: “Trus itu kaya kedai kopi lu tuh punya sebro apa punya lu sendiri?”
Interviewee: ”Kalo sebenernya kalo kedai kopi sendiri punya gua, emang sebenernya tuh dulu awalnya itu kan sebro, kedai sebro mau bikinnya, cuman emang dulu mindset sedikit berubah gara-gara kekurangan secara financial, jadinya kita buat dulu rumah belajar gitu kan, entah kenapa jadi mindsetnya berubah jadi rumah belajar buat anak-anak kursus gitar, jadinya kita lebih ke sanggar yang berbasis komunitas”.
Interviewer: “Oh kumunitas”.
Interviewee: “Kita berbagi, dengan berbagi menu kita berbagai ilmu, kalo kedai sendiri itu alhamdulillah setelah 1 tahun lewat dari rumah sebro bisa terwujud lah keinginan yang ingin gue capai membangun sebuah kedai”
Interviewer: “Itu kedai wewenangnya secara garis besar punya lu sendiri apa ada masuk campur tangan dari sebro”
Interviewee: “Kalo kedai sendiri sih gue sendiri”
Interviewer: “Kalo wewenang lu di rumah sebro tuh sebagai ketua tuh, apa aja ya san?”
Interviewee: “Sebagai ketua ya gue lebih pendekatan ya sama teman-teman, kaya semacam eeh kan kita punya program juga, program rumah sebro itu ada beberapa, yaitu salah satunya ada malam kreasi itu agenda kita setahun sekali kalo itu agenda besar kita untuk malam terakhir, karena kita belajar di setiap minggu, dan dipentaskan di akhir tahun itu, jadi kita setiap acara itu setahun sekali nunjukin bakat-bakat temen-temen yang kita kita udah belajar kita pentaskan kembali, juga kita ada, lagi program berjalan sih, kita namanya ada rabu baca, setiap hari rabu kita baca dan juga diskusi (terdengar suara motor) terus terkadang juga disitu kaya jadi perpustakaan umum, anak-anak kecil suka baca buku disini karena kita juga menyediakan, bagi temen-temen pun yang mau eem apa namanya berbagi buku-buku yang memang sudah tidak dibaca lagi bisa dibagikan disini gitu kan, juga kita ada sabtu berbudaya, nah itu memang belum berjalan cuman pelan-pelan sih untuk sabtu berbudaya sendiri, terus juga kalo untuk secara.. tadi apa, wewenang ya?”
Interviewer: “Iya wewenang sebagai ketua umum, lu ketua umum kan ya?”
Interviewee: ”Ketua umum itu kan karena, kalo dalam struktur, gue sebagai ketua umum didampingi sama beberapa divisi, ada ketua divisi, jadi masing-masing itu ada ketuanya, secara keseluruhan sih kita kalo buat mengatur keseluruhan kita lebih ke menyerahkan langsung kepada masing-masing divisi gitu kan, setidaknya tapi ada laporan, minimal laporannya tersebut, apa program kerjanya dan apa yang ingin dikerjakan”
Interviewer: ”Okeehh, terus hubungan lu sama anak buah, gue sebutnya anak buah jangan?”
Interviewee: ”Jangan lah, kalo anak buah kesannya ini banget, kalo gue sih lebih kekeluargaan ya disini, jadi sebenernya kalo secara struktur emang iya gitu kan tapi kalo secara yang kita tetapkan disini lebih kekeluargaan, intinya kalo secara hubungan sih alhamdulillah baik, tapi memang pasti ada aja yang ada suatu hal yang berbau konflik kaya beda pendapat tapi kita selalu setelah berbeda pendapat kita evaluasi,apa nih jadi setelah evaluasi kita kembali lagi”
Interviewer : “Oke,ada rekan lu yang ga lu senengin ngga?”
Interviewee: ”Kalo rekan yang ngga disenengin sih”
Interviewer: ”Misalkan dari cara pendapatnya gitu atau,orangnya skeptis gitu”
Interviewee: ”Oh, adalah ada ya mungkin kalo untuk hal yang seperti itu sih gue wajarin deh karena kita pasti masing-masing orang karakternya beda-beda tetapi kalo untuk secara suka ga suka sih mau ga mau harus suka karna kita kan disini berkomunikasi gitu kan perbedaan pendapat itu kan pasti gitu kan dan juga untuk penanganan sendiri gue lebih ke pendekatan gitu kan karena dari situ kita bisa tahu paham karakter orang itu seperti apa”
Interviewer: ”Terus gimana sih perasaan lo ngelihat rekan kaya gitu gimana?”
Interviewee: ”Kalo yang pasti kaya gitu terkadang gondok ya suka gondok gitu kan ya tapi ya balik lagi  gue gaboleh egois kan karna walaupun disini gue punya wewenang tapigue harus melihat dulu kan secara kita lihat dari sisi apa dulu nih kalo fatal ya kita harus tegas tapi kalo misalnya masih bisa ditoleransi ya tetep yaudah yang penting jangan egois gitu”
Interviewer: ”Biasanya orang-orang kaya gitu,yang ngga lu senengin itu dari apanya sih?apa ada”
Interviewee: ”Terkadang sih suka apatis sih terkadang kalo kita lagi rapat dia diem gitu kan terkadang kalo misalkan memang eee inisiatifnya kurang,gitu gitu”
Interviewer: ”Terus apa yang lo lakuin?”
Interviewee: ”Ya, pendekatan jadi pelan-pelan dan gua secara pertama aaaa kalo gue sih lebih ngeliat dulu anaknya kenapa gitu kan, pasti ada satu hal kaya contoh ada masalah gitu kan.karna kita bisa lihat dari segi body languagenya dia juga gitu..kalo misalkan lagi ada masalah gitu kan biasanya ketauan banget tuh anak oh ini yang biasanya dia rame eh tiba-tiba diem gitu kan tapi kalo anak anaknya dari awal memang seperti itu ya kita  bisa paham gitu karena memang karakternya dia ngga bisa kalo ngomong lagi  bermusyawarah lagi rapat  tuh ngga bisa makanya gua lebih pendekatan,itu ngobrol langsung berdua gitu kan interpersonal gitu kan ngobrol berdua apa yang lo rasain ee eungkapin gitu aja”
Interviewer: ”Terus kalo struktur tugas eee di kedai subro itu sendiri?”
Interviewee: ”Kedai?Kedai?”
Interviewer: ”Oh sekolah subro,sorry salah ngomong.apa sebutannya?”
Interviewee: ”Sanggar sih inshaAllah sanggar..”
Interviewer: ”Oh sanggar..subro apanih?”
Interviewee: ”Sanggar rumah subro..Ada rumahnya karna tempat naung”
Interviewer: ”Itu struktur tugasnya kaya gimana?”
Interviewee: ”Kalo struktur tugas sih ya tadi,kembalikan aja pada masing-masing divisi tapi masing-masing divisi kan dia punya program.program-programnya itu misalnya dari setiap divisi kan smisal sastra nah itu dia ada program misalnya Rabu baca,mereka bikin puisi dan mereka ada bedah karya buku siapa gitu misalnya atau novel gitu kan terus kalo untuk temen temen yang lainnya kaya divisi tari itu mereka ada program latihan,program perlombaan, gitu kan terus untuk  seni rupanya mereka ada kumpul  gambar bareng  kadang sharing bareng  terus juga mereka ada apa namanya kaya  membuat pameran gitu-gitu  terus lebih ke praktek sih kalo untuk yang  seni rupa.kalo untuk music sendiri sama kita juga  ada namanya selasa music kita setiap selasa music kita kumpul kita sharing  music kita bikin lagu kita  mix lagu  cover lagu  intinya sih lebih ke hal hal music gitu kan terus kalo untuk yang seni kriya nya itu kita produktif sih ada alat lukis gitu kan terus ada sepatu lukis  tas luki gitu kan lebih ke  bisnis sih kalo untuk yang ininya gitu”
Interviewer: ”Oke…emmmm lo kan sebagai ketua umum ya  otomatis  gimana caranya  rekan rekan lo itu bisa menjalani apa yang lo inginkan kan,nah cara cara lo supaya anak anak bisa searah sejalur itu gimana tuh?apa tiap minggu harus dibeberkan misi misinya itu apa gimana?”
Interviewee: ”Mmmm engga sih  kita yang pertama sih karna disini kan keseringannya kita kumpul  disitupun kiita eee mungkin gini kita awalnya kita harus tau konsistensi  ama komitmen gitu kan komimen kita apa disini  dengan kita dari awalpun kita ngomong  kita bicara bareng-bareng kita musyawarah  tentang visi misi sendiri gitu  kan,otomatis mereka mempunyai  komitmen masing-masing  gitu kan mengenai  apa yang divisi misikan disini karna kita membangun visi misi ini bukan saya sendiri tapi kita bersama-sama..jadi bisa dibilang lebih mudah gitu kan karna kita komitmennya bersama-sama”
Interviewer: ”Terus satu lagi nih ya, terakhir strategi lo biar rekan rekan lo tetap solid biar rumah sanggar ini bisa maju lama..kan banyak kan sering ada yang stuck terus ngga jalan itu gimana strategi lo?”
Interviewee: ”Komunikasi sih yang utama, karena dengan komunikasi kita bisa tau segala sesuatunya karna tanpa adanya sebuah komunikasi pasti ada timbul sebuah miss komunikasi yang bisa menyebabkan konflik.Intinya kalo kita sering berkomunikasi  kta sering kumpul  gitu kan itu mempererat juga tali silaturrahim dan juga itu kan kita makin kukuh itu karna kita sering kumpul itu kan sharing  kita bertukarfikiran kita buat satu hal apa gitu kan intinya  lebih ke ngebangun  dan lebih ke mepersatukan kembali bawasannya ini kita punya visi misi ini loh itu  seperti itu sih secara garis besar aja itu”
Interviewer: ”Oke..makasih san ya gua doain semoga sukseslah gua doain Rumah Subro makin terkenal bisa masuk TV”
Interviewee: ”Aamiin…Aamiin..Thankyou untuk doanya”
Interviewer: ”Selamat malam..”
Interviewee: ”Malam..Bye”

D.   Analisis Hasil Wawancara
Berdasarkan teori leadership kontingensi kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan kelompoknya. Subjek melakukan pendekatan dengan karyawan dengan mengadakan acara-acara yang dapat menyatukan kekeluargaan antar karyawan lebih dalam lagi.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi atau lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
a.       Kekuasaan atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Seperti yang dikatakan oleh subjek “lihat dari sisi apa dulu nih kalo fatal ya kita harus tegas tapi kalo misalnya masih bisa ditoleransi ya tetep yaudah yang penting jangan egois gitu” hal tersebut memperlihatkan bahwa subjek memiliki kekuasaan tetapi dalam melakukan wewenang subjek melihat dari sebab suatu masalah terjadi.
b.      Struktur tugas (task structure)
Dalam organisasi yang dipimpin subjek, subjek membagi karyawannya dalam divisi-divisi agar pengaturan tugas lebih teratur.
c.       Hubungan antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member relations)
Seperti yang dikatakan subjek, ” kalo gue sih lebih kekeluargaan ya disini, jadi sebenernya kalo secara struktur emang iya gitu kan tapi kalo secara yang kita tetapkan disini lebih kekeluargaan, intinya kalo secara hubungan sih alhamdulillah baik, tapi memang pasti ada aja yang ada suatu hal yang berbau konflik kaya beda pendapat tapi kita selalu setelah berbeda pendapat kita evaluasi, apa nih jadi setelah evaluasi kita kembali lagi” subjek lebih mengedepankan kekeluargaan tetapi tidak menghilangkan struktur organisasi yang telah di tetapkan oleh organisasi dan diselesaikan dengan evaluasi bersama.

E   Kesimpulan

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi individu atau kelompok di dalam sebuah organisasi baik berskala kecil ataupun besar. Hal ini diperkuat dengan teori kepemimpinan Fiedler “Contingency Theory” yang mengeanggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (grup task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya, kepribadiannya, dan pendekatannya sesuai dengan kelompoknya. 
Subjek dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang memiliki skor LPC tinggi (pemimpin yang berorientasi ke hubungan). LPC atau Least Prefered Coworked) adalah skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang dirasakan oleh pemimpin antara diri sendiri dengan “rekan kerja yang paling tidak disenangi”. Skor LPC yang tinggi menunjukan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi dalam suasana meyenangkan. Sebaliknya, skor LPC yang rendah menunjukan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang dianggap tidak dapat bekerja sama.
Dari hasil wawancara terlihat bahwa subjek memiliki skor LPC yang tinggi, hal ini dibuktikan dengan dalam menjalankan roda organisasinya subjek lebih mementingkan hubungan yang bersifat interpersonal dengan rekan kerjanya dibandingkan dengan pelaksanaan tugas. Subjek juga memiliki orientasi proses daripada orientasi hasil, maksudnya adalah subjek selalu ingin memantau setiap proses yang dikerjakan oleh rekannya bukan hasil melihat hasil akhirnya saja. 




Sabtu, 23 Mei 2015

Kesehatan Mental : Hubungan Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosional

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagian bersama serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup.
Kesehatan mental merupakan relatif, di mana keharmonisan yang sempurna antara seluruh fungsi-fungsi tubuh itu tidak ada. Yang dapat diketahui bahwa seberapa jauh jaraknya seseorang dari kesehatan mental yang normal. Terkadang orang menyangka, bahwa setiap ada ketidaknormalan akan tergolong kepada gangguan jiwa. Padahal orang yang telalu bodoh atau terlalu cerdas, biasanya bukan karena terganggu jiwanya, tetapi karena berbeda batas-batas kemampuan yang ada padanya. Memang dalam keadaan tertentu, terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.
Kecerdasan emosional  adalah kemampuan seseorang untuk  menerima, menilaimengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.  Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.
Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri 

Kecerdasan emosional sangat penting dimiliki oleh seseorang karena dengan adanya kecerdasan emosional kita bisa mengontrol emosi yang ada didalam diri kita dan lingkungan sekitar kita. Lalu apa hubungannya kesehatan mental dengan kecerdasan emosional, disini keduanya memiliki hubungan yang saling mempengaruhi, jika kita sedang merasa marah, sampai tidak bisa mengontrol emosi kita, maka tubuh kita akan merasa lelah, energi kita akan merasa habis dan mental kita pun ikut terpengaruh. Disini keadaan mental kita akan terganggu karena emosi kita tadi. Emosi juga berpengaruh ketika kita sedang dihadapkan oleh pilihan, jika kita sedang merasa emosi sehingga kita salah mengambil pilihan karena kita tidak bisa berpikir dengan jernih, oleh karena itu dengan adanya kecerdasan emosional kita diharapkan mampu mengendalikan emosi kita, mengendalikan perasaan, dan mampu menggunakan emosi dengan baik sehingga keadaan mental kita tidak terpengaruh dan mampu mengambil keputusan yang tepat. Jika kita bisa mengendalikan emosional kita dengan baik maka mental kita pun akan sehat.

Refrensi: 
       Sarwono, Sarlito W. (2012) Pengantar Psikologi Umum. Cet 4. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Daradjat, Zakiah. 1997. Kesehatan Mental. Gunung Agung

Kesehatan Mental : Fenomena Depresi





Setiap orang pasti pernah merasakan depresi pada saat – saat tertentu, seperti misalnya sedih, lesu, tidak minat pada aktivitas apapun meski menyenangkan. Situasi yang menjadi penyebab utama depresi adalah kegagalan di sekolah, di tempat kerja atau kegagalan dalam hal cinta. Depresi dianggap abnormal ketika depresi tersebut di luar kewajaran dan berlanjut sampai dimana kebanyakan orang sudah dapat pulih kembali. (Atkinson dkk., 1992).
Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu gangguan depresi. Penderita depresi tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan atau memusatkan perhatiannya kepada sesuatu yang menarik. Dalam taraf yang ekstrim, penderita dapat disertai adanya kecemasan dan bisa jadi mencoba bunuh diri.
Menurut Chaplin (1995) Depresi pada orang normal dapat diartikan sebagai keadaan murung (kesedihan , patah hati, dan patah semangat) yang ditandai dengan rasa tidak puas, menurunya aktivitas, dan pesimisme di dalam mengadapi masa datang. Sedangkan depresi secara abnormal dapat diartikan sebagai ketidakmampuan yang ekstrim untuk merespon stimulus dan disertai menurunnya nilai diri, ketidakmampuan, delusi dan putus asa.
 Menurut Bandura (1986, 1997) Kegagalan sering berakibat terhadap depresi. Dan orang -  orang depresi sering menurunkan nilai pencapaian mereka sendiri. Hasilnya adalah kesedihan kronis, perasaan tidak berharga, perasaan tidak memiliki tujuan, dan depresi yang bertahan.
Bandura yakin bahwa penyebab depresi dapat terjadi dalam salah satu dari tiga subfungsi regulasi diri: (1) observasi diri, (2) proses penilaian, dan (3) reaksi diri.
  1.       Pada saat observasi diri, orang dapat dalah menilai performa mereka sendiri atau mendistorsi ingatan mereka menganai pencapaian di masa lalu, dan mengecilkan pencapaian mereka terdahulu, suatu kecendrungan yang akan meningkatkan depresi mereka.
  2.           Orang – orang depresi lebih mungkin melalukan penilaian yang salah. Mereka menentukan standar yang tidak realistis dan sangat tinggi, sehingga pencapaian pribadi apa pun akan dinilai sebagai kegagalan. Depresi lebih mungkin terjadi pada mereka yang menentukan tujuan dan standar personal yang jauh lebih tinggi daripada persepsi kemampuan mereka untuk mencapai hal -  hal tersebut.
  3.     Reaksi diri orang depresi cukup berbeda dari mereka yang tidak depresi. Orang – orang depresi tidak hanya menilai diri mereka sendiri dengan keras, mereka juga cenderung memperlakukan diri mereka dengan buruk karena keterbatasan – keterbatasan mereka.

Depresi adalah suatu penyakit hati yang menyebabkan kita tidak bersemangat melakukan apapun, perasaan yang lebih dari sedih. Depresi menyebabkan kita lelah secara mental. Dalam kehidupan sehari – hari kita harus menjauhkan perasaan depresi karena depresi bisa saja membuat kita melakukan hal – hal yang tidak terduga seperti bunuh diri. Untuk menjauhi perasan depresi kita harus selalu memiliki pikiran positif mengenai diri kita sendiri. Olahraga juga bisa membantu seseorang dalam mengatasi depresi, dengan olahraga pikiran kita akan lebih tenang dan segar. Mari hidup sehat dengan selalu olahraga terartur dan berpikiran positif.


Refrensi:
1.      Riyanti, Dwi B.P, Hendro Prabowo (1998) Psikologi Umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma.
2.      Feist, Jess. Feist,Gregory J. (2011) Teori Kepribadian 2. Jakarta: Salemba Humanika.


Senin, 23 Maret 2015

Kesehatan Mental


1.Sejarah Kesahatan Mental

a. Masa Anismisme
Sejak zaman dulu, sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut.  Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya.

Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban3 yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.

b.Kemunculan Naturalisme
Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda memotong batok kepala, maka Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, tetapi Anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan Anda.”
Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.

c.Era Modern
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (ir rasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. 
Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge”beserta gerakan-gerakan yang terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah.
Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Pada tahun 1950, organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health”yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan“The World Health Organization”.

2. Konsep Sehat



Konsep Sehat itu adalah sebuah keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat. Itu adalah pengertian sehat yang saya mengerti pada awalnya. Dan setelah sekian lama Sehat Kita Semua tidak memposting makan pada kali kesempatan ini setelah vakum cukup lama akan memberikan hal sedikit tentang beberapa hal yangb berhubungan dengan konsep dan pengertian sehat ini.
Hidup sehat dan dalam kesehatan akan sangat membantu kita dalam melakukan berbagai macam aktifitas kehidupan sert arutinitas yang bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena bila dalam keadaan sekita atau poun kurang sehat maka hal ini akan mempengaruhi akan produktifitas kita juga.
Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

3. Perbedaan Konsep Kesehatan Mental Barat dan Timur

Penyembuh atau orang yang berperan mengobati pada system pengobatan barat dibedakan antara dokter dan psikolog. Dokter itu yang bertugas untuk mengobati pasien secara kebutuhan akan fisiologisnya sedangkan psikolog bertugas untuk mengobati klien secara kebutuhan akan psikisnya(joesoef, 1990). Bahkan karena pengaruh pandangan dualism tubuh dan jiwa ini. Hampir – hampir para dokter tidak bersinggungan sama sekali dengan sang psikolog dan mereka bekerja pada bidang yang sama sekali berbeda.
Hal ini berbeda pada pengobatan di timur dimana penyembuh biasanya dilakukan oleh tokoh setempat seperti pendeta atau dukun atau imam. Kemudian peranan penyembuh disini bukan menyembuhkan dari segi fisiologis saja, tetapi menyeluruh meliputi mental, moral, dan spiritual.

Sumber:
Wasty, Soemanto, Drs, MPd. (1998). Psikologi Pendidikan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Yusuf,S. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.
Schneiders, A. (1964). Personal Adjustment and Mental Health. New York: Rinehart & Winston.
Sutardjo A. Wiramihardja. 2010. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung : Refika Aditama.